Integrasi adalah penggunaan unsur bahasa lain secara
sistematis seolah-olah merupakan bagian dari suatu bahasa tanpa disadari oleh
pemakainya (Kridalaksana: 1993:84). Salah satu proses integrasi adalah
peminjaman kata dari satu bahasa ke dalam bahasa lain.
Oleh sebagian sosiolinguis, masalah integrasi merupakan
masalah yang sulit dibedakan dari interferensi. Chair dan Agustina (1995:168)
mengacu pada pendapat Mackey, menyatakan bahwa integrasi adalah
unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan dianggap sudah
menjadi bagian dari bahasa tersebut. Tidak dianggap lagi sebagai unsur pinjaman
atau pungutan.
Mackey dalam Mustakim (1994:13) mengungkapkan bahwa masalah
interferensi adalah nisbi, tetapi kenisbiannya itu dapat diukur. Menurutnya,
interferensi dapat ditetapkan berdasarkan penemuan adanya integrasi, yang juga
bersifat nisbi. Dalam hal ini, kenisbian integrasi itu dapat diketahui dari
suatu bentuk leksikal. Misalnya, sejumlah orang menganggap bahwa bentuk
leksikal tertentu sudah terintegrasi, tetapi sejumlah orang yang lain
menganggap belum.
Senada dengan itu, Weinrich (1970:11) mengemukakan bahwa jika
suatu unsur interferensi terjadi secara berulang-ulang dalam tuturan seseorang
atau sekelompok orang sehingga semakin lama unsur itu semakin diterima
sebagai bagian dari sistem bahasa mereka, maka terjadilah integrasi. Dari
pengertian ini dapat diartikan bahwa interferensi masih dalam proses, sedangkan
integrasi sudah menetap dan diakui sebagai bagian dari bahasa penerima.
Berkaitan dengan hal tersebut, ukuran yang digunakan untuk
menentukan keintegrasian suatu unsur serapan adalah kamus. Dalam hal ini, jika
suatu unsur serapan atau interferensi sudah dicantumkan dalam kamus bahasa
penerima, dapat dikatakan unsur itu sudah terintegrasi. Sebaliknya, jika unsur
tersebut belum tercantum dalam kamus bahasa penerima unsur itu belum
terintegrasi.
Dalam proses integrasi unsur serapan itu telah disesuaikan
dengan sistem atau kaidah bahasa penyerapnya, sehingga tidak terasa lagi
keasingannya. Penyesuaian bentuk unsur integrasi itu tidak selamanya terjadi
begitu cepat, bisa saja berlangsung agak lama. Proses penyesuaian unsur
integrasi akan lebih cepat apabila bahasa sumber dengan bahasa penyerapnya
memiliki banyak persamaan dibandingkan unsur serapan yang berasal dari bahasa
sumber yang sangat berbeda sistem dan kaidah-kaidahnya. Cepat lambatnya unsur
serapan itu menyesuaikan diri terikat pula pada segi kadar kebutuhan bahasa
penyerapnya.
Sikap penutur bahasa
penyerap merupakan faktor kunci dalam kaitan penyesuaian bentuk serapan itu.
Jangka waktu penyesuaian unsur integrasi tergantung pada tiga faktor
antara lain
a. Perbedaan dan persamaan sistem bahasa sumber
dengan bahasa penyerapnya,
b. Unsur serapan itu sendiri, apakah sangat
dibutuhkan atau hanya sekedarnya sebagai
pelengkap, dan
c. Sikap bahasa pada penutur bahasa
penyerapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar